Modernisme

2009 Maret 18
by cikal

Adoh ratu cedak watu jauh dari raja dekat dengan batu. Kalimat tersebut cocok untuk menggambarkan eksistensi Banyumas atau wong Banyumas. Secara politik, tak pernah ada raja yang berkeraton di wilayah yang dikelilingi pegunungan ini, yang ada hanya adipati. Banyumas sekarang kabupaten di Jawa Tengah—menjadi sebuah daerah perdikan dan negeri ”mancanegara”, baik pada masa Majapahit dan Mataram (Jawa) maupun Pajajaran (Sunda). Kondisi tersebut membuat wong Banyumas berkesempatan mengembangkan budaya sendiri yang khas dan unik. Satu unsur budaya yang lekat di masyarakat Banyumas dan masih bertahan hingga kini adalah dialek bahasa ngapak-nya. Konon, dialek ngapak ini adalah bahasa Jawa murni atau bahasa Jawadwipa. Banyumas juga kaya akan kesenian khas, seperti ebeg, cowongan, lengger, genjringan, ujungan, udhun-udhunan, begalan, memedi sawah, dan kentongan. Seni-seni tersebut agak berbeda dengan seni budaya yang berkembang di Jawa maupun Sunda. Namun, derasnya pengaruh modernisme kini mulai mengikis eksistensi budaya-budaya lokal tersebut. Pentas lengger, ebeg, dan kenthongan kini mulai jarang terlihat.

Kelompok-kelompok seni tradisional pun mulai terpinggirkan. Sebaliknya, sajian budaya modern, seperti konser musik pop, rock, dangdut, pentas disc jockey , hingga sajian sexy dancer dapat dinikmati hampir setiap minggu di kota ini. Kondisi tersebut seiring maraknya tempat hiburan modern, mulai kafe, diskotek, pub, hingga rumah karaoke. Hingga tahun 1970-an dan sampai 1980-an, hampir setiap desa di Banyumas memiliki kelompok seni, khususnya kenthongan dan lengger. Mereka secara berkala tampil dalam berbagai kesempatan, seperti perayaan pernikahan, hari besar, hingga merti desa. Seni, seperti ebeg, kenthongan, cowongan, dan lengger, bagi wong Banyumas kala itu bukan sekadar pentas hiburan, melainkan sebuah tradisi yang menyatukan mereka dengan jati diri mereka sebagai orang Banyumas. Maka tak heran, di masa jayanya, mementaskan kesenian tradisional seakan menjadi kebutuhan warga Banyumas di sela menggelar hajatan, seperti pernikahan, sunatan, atau panen. ^-^ kompas

21 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Maret 21

    ninggalin jejak aku dolo yahhh salam knalll

  2. 2009 Maret 25

    penindasan budaya lebih berbahaya dari kolonialisme

  3. 2009 Maret 25

    selain kaya budaya, banyumas yang saya kenal lewat trilogi-nya kang tohari, juga pola dan gaya hidup masyarakatnya ya ca-bla-ka. ini yang membuat banyumas masih terus bisa bertahan di tengah gempuran budaya global dan kosmopolit. ada nilai2 kearifan lokal yang mustahil bisa terhapus begitu saja oleh jejak2 sejarah. yakinlah! *walah kok jadi seperti ahli terawangan, haks*

  4. 2009 Maret 26

    banyumas is the best..dialek bahasanya udah melegenda dan menasional loh….sampe di bangka ini sering ku dengar dialeknya…hehehehe

  5. 2009 Maret 26

    susah untuk mempertahankan mas

  6. 2009 Maret 28

    Dicobi

  7. 2009 Maret 28

    Imperialisme budaya asing pada akhirnya mencerabut nilai-nilai budaya sampai keakar-akarnya…

  8. 2009 Maret 29

    waktu sudah tidak berpihak pada budaya tradisional

  9. 2009 Maret 29

    jaman terkikis budaya pun mulai menipis
    kadang mulai menangis mas meratapi keadaan yang kadang menjadi kaprah
    tapi masih kental tutur bahasa banyumas meski dengan bahasa indonesia masih lekat nada dan intonasinya

  10. 2009 Maret 29

    sumonggo dipun rahabi ha ha ha

  11. 2009 Maret 30

    kalo menurut saya sih, modernisme ituh seharusnya berjalan beriringan dengan seni tradisional.. coz, kan sama2 menguntungkan ;-)

  12. 2009 Maret 31

    Banyumasan? Wah saya dulu tinggal di Kebumen 10 tahun jadi masih bisa ngapak-ngapak hehehe…

  13. 2009 Maret 31

    Bukan hanya di Banyumas..
    Di Surabaya pun, sudah lama budaya tradisionalnya tersisihkan oleh modernisasi jaman..
    Kalut dan dilematik memang..

    *makasih ya kunjungannya :)

  14. 2009 Maret 31

    woii makasih yaa surabaya oke

  15. 2009 Maret 31

    Ya, kenyataannya selalu seperti itu. Dana habis, yang terpilih belum tentu amanah. Kakak saya pernah melihat kampanye salah satu partai yang memakai panggung yang sudah pasti biayanya tidak sedikit (sewa ini itu dll), tapi hanya dihadiri tak lebih dari 10 orang. Sangat disayangkan….

  16. 2009 Maret 31

    Hampir salah komen. Mantap banget membaca review tentang Banyumas. Dari daerah lain juga pasti juga mantap2. Majukan daerahmu sendiri! Modernisme memang seharusnya tidak menghapus budaya yang ada tetapi bersinergi!

  17. 2009 April 1

    trus sekarang kalo nikahan, sunatan atau panen ganti jadi apa acaranya mas?

  18. 2009 April 3

    Salam kenal dan semoga budaya dalam negara sendiri tetap dipertahankan supaya generasi akan datang tahu akan warisan bangsanya yang murni dan agung dulu tanpa adanya sebarang unsur-unsur budaya luar yang tidak mementingkan budaya timur dan bersopan santun. salam kenal dan terima kasih atas kunjungan ke laman blog saya. Salam hormat dari UKM, Bangi. Malaysia.

  19. 2009 April 4

    ya inilah akhirnya budaya tradisionla tergerus oleh zaman

  20. 2009 April 4

    iya mas dafi karena zamane sudah kaya gini mau gimana lagi susah untuk mempertahankan .

  21. 2009 April 7

    Nasib budaya tradisional kita memprihatinkan banget untuk dikawasan kota, tetapi untuk kawasan pedesaan sih masih ada walaupun sekarang ini makin banyak yang tertular modernisasi. Yah itulah zaman.

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS