Skip to content

Suro

Desember 15, 2008

Sebentar lagi tahun baru akan daatang  baik masehi mauapun hijriyah. tahun baru jawa nama 1 Suro ( Muharam ) dalam kacamata masyarakat, khususnya Jawa, merupakan bulan keramat. Sehingga mereka tidak punya keberanian untuk menyelenggarkan suatu acara terutama hajatan dan pernikahan. Bila tidak di indahkan akan menimbulkan petaka dan kesengsaraan bagi mempelai berdua dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hal ini diakui oleh seorang tokoh keraton Solo.

Bahkan katanya : “Pernah ada yang menyelenggarakan pernikahan di bulan Suro (Muharram), dan ternyata tertimpa musibah!”. Maka kita lihat, bulan ini sepi dari berbagai acara. Selain itu, untuk memperoleh kesalamatan diadakan berbagai kegiatan. Sebagian masyarakat mengadakan tirakatan pada malam satu Suro (Muharram), entah di tiap desa, atau tempat lain seperti puncak gunung. Sebagiannya lagi mengadakan sadranan, berupa pembuatan nasi tumpeng yang dihiasi aneka lauk dan kembang lalu di larung (dihanyutkan) di laut selatan disertai kepala kerbau. Mungkin supaya sang ratu pantai selatan berkenan memberikan berkahnya dan tidak mengganggu. Peristiwa seperti ini dapat disaksikan di pesisir pantai selatan seperti Tulungagung, Cilacap dan lainnya.

Acara lain yang menyertai Muharram (Suro) dan sudah menjadi tradisi adalah kirab kerbau bule yang terkenal dengan nama kyai slamet di keraton Kasunanan Solo. Peristiwa ini sangat dinantikan oleh warga Solo dan sekitarnya, bahkan yang jauhpun rela berpayah-payah. Apa tujuannya ? Tiada lain, untuk ngalap berkah dari sang kerbau, supaya rizki lancar, dagangan laris dan sebagainya. Naudzubillahi min dzalik. Padahal kerbau merupakan symbol kebodohan, sehingga muncul peribahasa Jawa untuk menggambarkannya : “bodo ela-elo koyo kebo”. Acara lainnya adalah jamasan pusaka dan kirab (diarak) keliling keraton. Itulah sekelumit gambaran kepercayaan masyarakat khususnya Jawa terhadap bulan Muharram (Suro). Mungkin masih banyak lagi tradisi yang belum terekam disini. Kelihatannya tahayul ini diwarisi dari zaman sebelumnya mulai animisme, dinamisme, hindu dan budha. Ketika Islam datang keyakinan-keyakinan tersebut masih kental menyertai perkembangannya. Bahkan terjadi sinkretisasi (pencampuran). Ini bisa dicermati pada sejarah kerajaan-kerajaan Islam di awal pertumbuhan dan perkembangan selanjutya, hingga dewasa ini ternyata masih menyisakan pengaruh tersebut.

About these ads
20 Komentar leave one →
  1. Desember 15, 2008 6:11 am

    pertamax choyyyy…..

  2. Desember 15, 2008 6:13 am

    iya..sasi suro kok yo terkesan wingit “angker” yah,padahal itu kan bulan bagus banyak hal terjadi di jaman Rasul dulu di bulan ini….
    jadi inget di jawa…..pengen muleh aku rasane…
    “salam kenal kang”

  3. Desember 15, 2008 9:22 am

    ya, sebentar lagi tahun yang baru segera datang

  4. Desember 15, 2008 10:30 am

    ya karena sudah kepercayaan susah untuk di delete

  5. Desember 15, 2008 10:32 am

    saya sih hanya melihat itu sebagai “tradisi” yang unik saja, meski saya ndak ikut melakukan, cuma nonton :D

  6. Desember 15, 2008 4:39 pm

    sebenarnya bagi saya adalah pembelajaran yang belum tuntas mengenai hal tersebut jadi mesti dimaknakan sebagai sesuatu yang mengajari kebajikan
    ditempatku ada ritual juga di kaki gunungkelir
    salam sukses dan salam hormat

  7. Desember 16, 2008 12:00 am

    1 suro ini tgl berapa dalam kalender ?

    eh aku penasaran. ratu pantai selatan itu sebenarnya sapa yak yg menjelma ? jin apa setan ? abisnya kayaknya sakti kali

  8. Desember 16, 2008 4:12 am

    wah aku jadi teringat film 1 suro dan film yang terkenal di surabaya ” Grammar Surabaya dengan pemeran Suro dan Boyo

  9. Desember 16, 2008 8:50 am

    wah ndak ngerti tentang gituan…

  10. Desember 16, 2008 8:58 am

    paling enak menikmati suro itu di parangtritis ya.
    pagi2nya harum semerbak aroma pantai karna masyarakat jogja menaburkan bunga ke pantai

  11. Desember 17, 2008 8:58 am

    antju….. teruse k
    nyuwun sewu misuh
    kangen suran nang solo

    mlaku soko mbolali tekan kraton
    keliling kratonnn ping pitu karo mbisu

    jan kangen aku

  12. Desember 18, 2008 3:13 pm

    adikku resepsi pernikahan di bulan suro kemarin ini :D

  13. Desember 18, 2008 4:01 pm

    eh,suro kali ini jatuh tanggal [masehi] berapa ya?

  14. Desember 18, 2008 5:38 pm

    Jadi teringat pilm “Malam satu suro” :p

  15. Desember 18, 2008 10:42 pm

    malam satu suro…

    pasti filmnya bu susana ni…

  16. Desember 19, 2008 9:03 am

    waktu kecil saya takut banget sm tanggal 1 suro. katanya tanggal itu banyak setan yang keluar. ditambah lagi, saya dicekokin sm pelemnya suZana yang judulnya malam 1 suro… ngerii..!!
    tp sekarang nggak dong.. kan udah gede ^_^ setiap 1 suro malah seneng…soale tahun baru hijriah :)

  17. Desember 30, 2008 1:08 am

    Suro alias Muharam memang terkesan keramat bagi penduduk jawa.padahal seharusnya tidak begitu.Kemarin ngobrol ma bpk nya temen di keraton (surakarta) sendiri tidak pernah melarang ada acara dibulan suro.karena mereka menganggap suro itu bulan yg sangat baik.ini kerjadian real alias nyata pada temen di sragen,bukannya takut eh malah menikah dibulan suro dan hasilnya .. tererrrreettt dia diangkat jadi PNS nah berkah suro emang luar biasa hehe.

  18. Januari 13, 2009 7:38 am

    Kalo dari obrolan dengan pengamat kebudayaan yang juga dosen pedalangan ISI Solo, kenapa keraton melarang adanya perayaan lain, karena supaya moment 1 Suro menjadi priviledge keraton.

    Politisasi gitu deh. Ini kata beliau lho…

  19. Desember 17, 2009 1:27 pm

    Tahun baru 1 muharam itu bukan tahun baru 1 suro. muharam itu milik orang arab suro milik orang jawa.

  20. habib blitar permalink
    Maret 4, 2012 4:58 am

    gaullllllllllllllll, bosssssssss!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: